Kucing Schrödinger, The Real Paradoks

Berawal dari rasa penasaran yang sangat mendalam setelah baca buku “Fisika Modern” karangan John Gribbin, saya jadi tertarik dengan dunia mikro yang biasanya disebut dengan “Quantum”.

salah satu yang menarik dari cabang ilmu Fisika yang gila ini adalah paradoksnya Mr. Erwin Schrödinger (susah ah nulisnya -__- ), ya seperti namanya ni paradoks isinya tentang seekor kucing, tapi walaupun cuma kucing, paradoks ini dalem banget lo pemirsa, dan bikin pusing pastinya –”

jadilah, dalam postingan kali ini saya akan mendemokan salah satu paradoks terkenal dalam dunia “quantum mechanic”, yaitu paradoks Kucing Schrödinger,,,

Kucing Schrödinger?? gimana ?? ada yang pernah dengar..??
kalo belum, saya akan mendemokan paradoks yang digagas salah satu sesepuh besar fisika modern, oom Erwin Schrödinger ini. intinya, paradoks ini dikemukakan oom Schrödinger untuk mendebat pendapat Max Born yang bilang kalo fungsi gelombang (notasi: ψ ), yaitu elemen paling dasar yang menyusun seluruh dunia mekanika kuantum adalah elemen probabilitas saja. imbas dari pendapat ini adalah bahwa kenyataan di dunia fisik (dunia kita) hanyalah masalah probabilistik, karena dunia kita disunun olah elemen-elemen kuantum (atom, elektron, proton, etc)

okeh..stop berpanjang teori..dalam “demo” ini, saya akan dibantu oleh teman saya dari spesies Felis Domesticus, ladies and gentleman..please welcome..Nunuuuuuuuung…

Nunung show on..^^

Dalam demo ini, kita akan menggunakan beberapa properti, sebuah kotak tertutup yang cukup besar untuk memasukkan nunung dan ikan goreng yang sebelumnya sudah di “racuni” (aslinya Schrödinger menggunakan labu gas beracun dan Geiger, berhubung keduanya tidak bisa ditemukan di rumah saya. maka marilah kita bermain asumsi saja. intinya konsepnya tersampaikan)

okelah..mari kita mulai, pertama-tama (kayak demo masak :P), kita masukkan ikan yang sudah diracun ke dalam kotak tertutup..

berikutnya..masukkan pula objek (si kucing) ke dalam kotak..

( nunung nampaknya sudah merasakan “bad feeling”, berkali-kali dia mencoba melompat keluar^^ )

kemudian kita tutup..

tunggu selama 1 jam, sekarang marilah kita membuat asumsi..dengan mengandaikan persentase kemungkinan nunung memakan umpan adalah 50% (berhubung nunung sedang puasa^^)
jadi di sini, selama kotak tertutup..kita dapatkan keadaan fifty-fifty..apakah setelah di buka nunung akan :

almarhum seperti ini…

atau masih segar bugar (dan bergaya sok erotis) macam ini ??

mengtip ucapan oom Schrödinger..
“Dengan demikian, setelah satu jam, kemungkinannya sama — yakni gas beracun mengalir (kucing mati) atau gas beracun tetap tersimpan (kucing hidup).

“Ini berarti kucing mati sekaligus hidup. Bagaimana mungkin ini terjadi?”

Inilah paradoks kucing Schrödinger, Oom Schrödinger menyampaikan sebuah skenario ekstrim yang tak masuk akal…” mungkinkah kucing mati sekaligus hidup di satu waktu?”
Para ilmuwan kemudian menyebut kondisi campuran ini sebagai superposisi keadaan (keadaan yang tidak bisa dipastikan karena persentase hidup-mati kucing sama =50%).

Jawaban untuk paradok ini muncul dari fisikawan Neils Born :
“Jika tutup kotak dibuka, maka kita akan tahu keadaan si kucing: apakah kucing sudah mati, atau masih hidup. Di sini cuma ada satu kemungkinan yang bisa jadi kenyataan.

Intinya, menurut Born, hanya ada satu kemungkinan yang boleh mewujud. Apakah kucing mati, atau hidup? Tidak mungkin dua-duanya terjadi bersamaan.

kenyataan cuma ada satu! Ini jelas meruntuhkan klaim Schrödinger bahwa kucing terjebak antara fase “hidup” dan “mati”.

Tapi, benarkah demikian?

Argumen Schrödinger seolah tumpas oleh penjelasan Born. Pengukuran selalu memberikan hasil tunggal; inilah sebabnya kita tak pernah menemukan kucing “setengah mati-setengah hidup” di dunia nyata. Meskipun demikian, masih ada masalah.

“Kucing memang terpastikan keadaannya setelah kita melakukan pengamatan (dalam hal ini membuka kotak). Tetapi, bagaimana jika kita tak pernah membuka tutup kotak?”
Jika kotak tak pernah dibuka, tentunya kita tak tahu apakah kucing mati atau hidup. Kita bisa saja memasukkan kucing ke dalam kotak, lalu kotaknya kita kubur, dan kita pergi jalan-jalan ke mall. Kabar si kucing?

Don’t know, don’t care…*kasiaan nunung*

Tetapi, coba sudut pandangnya diubah. Satu jam kemudian… bagaimana sebenarnya nasib kucing yang kita kubur?

Kemudian kita sadar: kepastian belum didapat. Kucing masih sama mungkinnya antara hidup dan mati!!😯

Inilah paradoks terbesar yang dihadirkan oleh percobaan Kucing Schrödinger. Bahwasanya,

Selama tak dilakukan pemeriksaan, kemungkinan kucing mati atau hidup sama-sama 50%. Mengikut ide Schrödinger, maka kucing akan berada dalam keadaan superposisi (antara mati dan hidup).

maka hal ini akan terus berlangsung sampai keadaan menjadi terpastikan (i.e. melalui pengamatan). sampai kita membuka kotak
Penjelasan di atas, sesungguhnya, memiliki konsekuensi filosofis yang sangat serius. Apa yang serius?

Yang serius adalah penjelasan akan superposisi itu sendiri:

Tak ada jalan bagi kita untuk mengetahui keadaan kucing sebelum kotak dibuka. Apakah kucing mengalami superposisi, atau tidak?

jika kita ganti “kucing” dengan “fungsi gelombang” ini melahirkan banyak tafsir di kalangan ilmuan, salah satu yg paling ekstrim teori many-worlds interpretation (MWI).

menurut MWI, jika saat kita buka ternyata kucing masih hidup, sebenarnya probabilitas “kucing mati” tidak menghilang. tetapi mewujud di… dunia paralel. WHAT!?😯 Sehingga sebenarnya tidak ada probabilitas yang tersia-sia. Hanya saja karena adanya beda fasa, maka dunia tersebut tak bisa kita amati sama sekali..

Ini artinya, setiap percabangan superposisi, selalu menciptakan “dunia-dunia paraler” lain, dimana setiap kemungkinan benar-benar terjadi. dalam contoh kucing, jika ternyata setelah kita buka. kucing tewas di “dunia kita”, “di dunia lain“ ada kemungkinan kucing hidup.

demikian penjelasan singkat mengenai paradoks kucing Schrödinger, jika anda nggak “mudek”, jangan cemas. cos anda bukan satu-satunya^^ (saya juga masih bingung sampai saat ini.hehe) dan itu wajar, seperti kata seorang punggawa terhebat Mekanika Kuantum, Pak Niels Bohr.

If anybody says he can think about quantum physics without getting giddy, that only shows he has not understood the first thing about them.

……………………………………………………………………………………………………………

source : http://sora9n.wordpress.com/

http://riyadinal.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: